RSS

Mengenal Teknologi 4G LTE (Long Term Evolution)

17 Aug

Kualitas layanan berbasis Internet Protocol (IP) melalui telepon seluler sangat ditentukan besarnya bandwidth. Setelah teknologi 3G yang sanggup memberikan akses hingga 2,4 Mbps, ke depan sudah dipersiapkan infrastruktur long term evolution (LTE) yang sanggup melakukan transfer hingga ratusan Mbps.

LTE didefinisikan dalam standar 3GPP (Third Generation Partnership Project) Release 8 dan juga merupakan evolusi teknologi 1xEV-DO sebagai bagian dari roadmap standar 3GPP2. Teknologi ini diklaim dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang lebih baik, peningkatan kapasitas radio, latency dan biaya operasional yang rendah bagi operator serta layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk para pengguna.

Perubahan siginifikan dibandingkan standar sebelumnya meliputi 3 hal utama, yaitu air interface, jaringan radio serta jaringan core. Di masa mendatang, pengguna dijanjikan akan dapat melakukan download dan upload video high definition dan konten-konten media lainnya, mengakses e-mail dengan attachment besar serta bergabung dalam video conference dimanapun dan kapanpun.

LTE juga secara dramatis menambah kemampuan jaringan untuk mengoperasikan fitur Multimedia Broadcast Multicast Service (MBMS), bagian dari 3GPP Release 6, dimana kemampuan yang ditawarkan dapat sebanding dengan DVB-H dan WiMAX .LTE dapat beroperasi pada salah satu pita spektrum seluler yang telah dialokasikan yang termasuk dalam standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100 MHz) maupun pada pita spektrum yang baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Kondisi yang ada di masyarakat saat ini telah banyak berubah dibandingkan dengan sebelumnya, dimana paket switch data semakin dominan, VoIP menjadi metode yang efisien untuk mentransfer data suara. Tak hanya itu, data semakin bertambah dari waktu ke waktu dan kebutuhan user untuk berkomunikasi semakin meningkat dan banyak. Semuanya itu dapat diatasi oleh LTE.

Teknologi LTE sendiri merupakan pengembangan teknologi dari aplikasi GSM dan CDMA yang sudah ada di Indonesia saat ini. Bila pada GSM (2G), berevolusi menjadi GPRS (2,5G), yang dilanjutkan dengan EDGE, serta EDGE Evolved. Maka di WCDMA (3G), berevolusi menjadi HSPA (3,5G) dan HSPA+, maka solusi berikutnya adalah penggunaan LTE yang mempunyai layanan kapasitas gigabytes di atas semuanya.

Ke depan, target peningkatan kualitas LTE adalah mempunyai rataan data tinggi seperti downlink lebih besar dari 100 Mbps, uplink lebih dari 50 Mbps, serta cell-edge data rates 2 sampai 3 kali HSPA Relay 6. Itu masih ditambah dengan tingkat delay LTE yang rendah, karena user plane RTT lebih kecil dari 10 ms, dan channel set-up lebih rendah dari 100 ms. LTE mempunyai kualitas bagus dalam melakukan service penyiaran, dengan biaya yang lebih rendah dan efektif. Dengan LTE, memungkinkan para user maupun subscribers menikmati beragam media (multimedia), seperti musik, internet, film, sampai game dalam satu peralatan yang saling terhubung menjadi satu. Dan paling penting berbiaya rendah.

Kecepatan menjadi raja di zaman teknologi tinggi seperti sekarang. Datangnya teknologi Long Term Evolution (LTE) menjadi angin segar untuk para konsumen yang mengagungkan kecepatan.

LTE didefinisikan dalam standar 3GPP (Third Generation Partnership Project) Release 8 dan juga merupakan evolusi teknologi 1xEV-DO sebagai bagian dari roadmap standar 3GPP2. Dengan spesifikasi seperti itu, LTE dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang lebih baik, peningkatan kapasitas radio, biaya operasional yang lebih murah bagi operator, serta layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk pengguna.

Perubahan paling mendasar dari LTE dibanding standar sebelumnya terdiri dari 3 hal utama yaitu air interface, jaringan radio, dan jaringan core. Di waktu mendatang, melakukan pengunduhan atau pengunggahan video berdefinisi tinggi, mengakses e-mail dengan attachment yang besar, mengajak teman bermain game favorit di manapun tempatnya, menjadi hal yang sangat mungkin dengan dukungan LTE.

Untuk masalah pita spektrum yang sangat berpengaruh dengan kinerja jaringan, LTE dapat beroperasi pada standar IMT-2000 (450, 850, 1800, 1900, 2100 MHz) maupun pada pita spektrum baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Alokasi pita lebar yang sangat fleksibel, mulai dari 1,4,3,5,10,15 hingga 20 MHz, menjanjikan fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaan spektrum.

Bila dilihat dari segi pasar, LTE mampu memperkuat posisi operator telekomunikasi karena meningkatnya nilai ekonomi jaringan secara keseluruhan, cakupan jaringan yang lebih luas, dan kapasitas data yang lebih besar. Operator juga dapat lebih fleksibel mengikuti kebutuhan pasar yang kian cepat berubah sekaligus mampu menawarkan layanan data broadband dalam skala besar. Sedangkan untuk para konsumen yang mencari tarif murah, LTE menjadi jawaban untuk kebutuhan telekomunikasi yang lebih ekonomis.

“LTE bisa menjadi solusi untuk konsumen yang price concern,” ujar Iman Hirawadi, Senior Manager Technical Business Development Wireless Networks ALcatel-Lucent Indonesia.

Layanan 4G berbasis Long Term Evolution (LTE) komersial pertama dan terbesar di dunia diklaim telah diluncurkan oleh TeliaSonera dan Ericsson di Stockholm, Swedia.

Carl-Hendric Svanvberg, Presiden dan CEO Ericsson menyebut ini sebagai peristiwa bersejarah. “Era baru dari pita lebar bergerak baru saja dimulai hari ini. Dengan LTE, yang juga disebut dengan 4G, pengalaman pita lebar bergerak Anda bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Kecepatan LTE memberikan Anda rasa kemudahan dalam mengakses pita lebar,” tuturnya.

LTE merupakan teknologi komunikasi bergerak generasi berikutnya yang didesain untuk memindahkan jumlah data yang sangat besar. Teknologi ini dikatakan sebagai cara yang hemat dan efisien, dengan mengoptimalkan penggunaan pita frekuensi dan mengangkat kecepatan akses seringan serat di udara.

Pengguna pun dapat menikmati layanan apapun secara online dengan lebih mudah. Mulai dari download video berdefinisi tinggi (HD) hingga permainan online berjaring.

Kenneth Karlberg, Presiden dan Kepala Mobility Services TeliaSonera mengatakan, perusahaannya sangat bangga menjadi operator pertama di dunia yang menawarkan layanan 4G kepada pelanggan.

“Terima kasih atas kerja sama yang berhasil dengan Ericsson, kami dapat menawarkan layanan 4G kepada pelanggan kami di Stockholm lebih awal dari rencana semua,” tukasnya.

Alhasil, pusat kota Stockholm sepenuhnya tercakup oleh jaringan LTE, membuat hal ini diklaim menjadi penyebaran LTE terbesar sampai saat ini.

Teknologi mobile broadband generasi selanjutnya diperkirakan akan memiliki 100 juta pelanggan dalam waktu 4 tahun, menurut report dari Pyramid Research. Sebuah study dari Pyramid Research menyatakan bahwa teknologi mobile data selanjutnya akan memiliki rate adopsi yang cepat mengingat adanya full support dari vendor dan operator jalur komunikasi.

Dalam sebuah report yang berjudul “LTE’s Five-Year Global Forecast: Poised To Grow Faster Than 3G” menyatakan bahwa jaringan 4G yang menggunakan teknologi LTE (Long Term Evolution) akan memiliki lebih dari 100 juta pelanggan hanya dalam waktu 4 tahun. Sebagai perbandingan, dari laporan yang sama, disebutkan bahwa untuk jaringan 3G sebelumnya juga mencapai angka tersebut, namun dalam waktu lebih lama yakni enam tahun.

Biaya akan menjadi salah satu factor penting yang mendukung tingginya pertumbuhan pelanggan, menurut report yang sama. Sementara jaringan LTE akan meningkat menjadi miliaran, namun arsitektur IP backbone jaringan LTE hanya membutuhkan beberapa komponen. Jaringan LTE memiliki limit kecepatan 100 Mbps, menurut teorinya, yang dapat memberikan layanan cepat untuk video streaming high-definiton.

Hampir seluruh operator mobile di seluruh dunia telah mengadopsi teknologi LTE untuk jaringan 4G mereka, dan akan dikembangkan lebih lanjut mulai tahun 2010 dan 2011. Sebagai contoh, Verizon Wireless yang telah menggunakan jaringan LTE dan mengujinya di tahun 2009. Sementara Clearwire, Sprint, Google, Intel dan beberapa perusahaan kabel masih mengadopsi teknologi WiMax yang secara teori memiliki kecepatan downlink lebih lambat daripada LTE.

Pemerintah Indonesia mengisyaratkan bakal memilih long term evolution (LTE) dari pada Wimax 16e (mobile Wimax) sebagai peta jalan pengembangan teknologi pita lebar nirkabel di Tanah Air.

Namun, regulator juga tidak ingin terlalu terburu-buru dalam mendorong LTE. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk sampai pada implementasi komersial.Untuk itu, tutur Tifatul, pemerintah akan tetap mempertahankan pengembangan Wimax standar 16,d sebagai teknologi akses pita lebar nomadic (tetap) dan standar LTE sebagai standar pita lebar nirkabel.

“[Semua yang ke] Wimax 16.e itu disarankan ke LTE karena lebih baik LTE daripada Wimax 16.e. Wimax 16.e itu mobilitasnya tanggung, di LTE nantinya kita tinggal memperluas spektrum,” ujarnya seusai meresmikan riset dan pengembangan teknologi LTE milik Telkomsel, kemarin.LTE adalah bagian dari teknologi GSM hasil dari evolusi teknologi 3G. Adapun Wimax merupakan teknologi nirkabel pita lebar yang dikembangkan oleh Wimax Forum, suatu organisasi yang lahir dari komunitas Internet.

Keduanya adalah teknologi telekomunikasi generasi keempat (4G) dan menawarkan akses komunikasi berkecepatan tinggi.Saat disinggung mengenai kesiapan sejumlah vendor lokal dalam memproduksi perangkat Wimax 16.e, Tifatul menegaskan pemerintah tidak pernah menggelar tender teknologi itu. “Yang ada [tender] Wimax 16.d sebagai teknologi broadband stasioner.”Dalam 2 tahun ke depan, Ti-fatul memastikan akan ada beberapa kali uji coba termasuk pengkajian tingkat komponen dalam negeri, dan persiapan tender frekuensi LTE, meskipun implementasi baru dapat dilakukan pada akhir 2012. Persiapan tender membutuhkan waktu 8 bulan.

Vendor lokal

Dengan wacana tersebut, kemungkinan besar pemerintah tidak akan mengalokasikan fre-kuensi untuk Wimax 16.e.Padahal saat ini, menurut Ketua Bidang Infrastruktur, Jasa dan Aplikasi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sumitro Roes-tam, delapan vendor lokal telah siap memproduksi perangkat Wimax berstandar 16.e.”Kami tidak setuju dengan opsi penghapusan Wimax 16.e,” ujarnya kepada Bisnis.

Sumitro menambahkan opsi LTE itu tidak menguntungkan mengingat tidak ada satu punvendor lokal yang siap.Namun, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan Wimax merupakan produk yang sama sekali baru, tidak memiliki rekam jejak, sementara LTE adalah evolusi dari 3G CSM, berawal di Eropa-yang sudah teruji 30 tahun di industri seluler.”Secara alamiah para operator akan merasa lebih aman dengan memilih LTE sebagai 4G wireless access,” ujarnya.

Telkomsel kemarin menjadi operator seluler pertama yang memulai riset dan pengembangan evolusi teknologi mobile broadband LTF. atau 3,9C yang melibatkan vendor dan perguruan tinggi di Indonesia.Menurut Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, riset dan pengembangan akan memperkuat komitmen operalor terbesar itu dalam menanam modal sekaligus memandu perkembangan seluler dalam memasuki era layanan pita lebar bergerak.

Dalam riset itu, vendor yang dilibatkan Ericsson, Nokia Siemens Network, Huawei dan ZTE.Dua operator seluler lain, yaitu PT Indosat Tbk dan PT XL Axiata Tbk juga telah mengajukan permohonan uji coba layanan LTE.Anggota BRTI Iwan Krisnadi mengatakan regulator dan pemerintah masih akan mengkaji di frekuensi mana sebaiknya LTE dialokasikan mengingat keterbatasan sumber daya frekuensi.

Sejumlah kalangan memprediksi regulator akan memberikan alokasi spektrum pita 2,5GHz untuk LTE. Pita tersebut selama ini diperebutkan antara pelaku industri Wimax dan operator satelit PT Media Citra Indosiar.Ketua Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia Barata Wisnu Wardhana menilai rencana regulator menyiapkan pita 2,5GHz bagi teknologi LTE, yang semula akan digunakan untuk teknologi pita lebar Wimax mobile dianggap tidak berpihak pada pengusaha lokal.

Menurut dia, jika opsi tersebut diputuskan, pemerintah terbukti hanya membesarkan operator seluler.Barata meminta regulator tidak hanya mengikuti pasar global, tetapi kepentingan nasional juga harus mendapat porsi lebih.Menurut dia, sebaiknya slot pada pita 2.5GHZ dialokasikan untuk kedua teknologi tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on August 17, 2010 in TEKNOLOGI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: